Pemilu Di Indonesia, 'Nilai Jual' Umat Islam Sangat Tinggi



Ya, kita umat Islam mungkin belum menyadari bahwa nilai jual kita sangat tinggi. Khususnya menjelang pemilu. Lihatlah para calon bupati, calon walikota, calon gubernur, calon presiden. Apa yang mereka lakukan di saat kampanye?


Mereka mendatangi pesantren, berbaju koko, istrinya yang tak pakai jilbab pun tiba-tiba berjilbab. Bahkan ada yang rela naik haji agar umat Islam makin simpati. Mereka bahkan mendatangi tokoh-tokoh Islam, bersilaturahmi, meminta dukungan dengan bahasa yang sehalus mungkin.

Bahkan fenomena terbaru, ada yang bikin kampanye, "Saya Muslim, Saya Pilih Si Anu yang Kafir." Tujuannya, tentu saja untuk mendulang suara.

Dan fenomena yang paling baru, Ada tokoh yang berpakaian ala muslim, mendatangi pesantren, disambut bagaikan ulama kharismatik oleh para santri. Duhai! Padahal dia selama ini terkenal mendukung Miss Universe, bahkan baru-baru ini mendatangi tokoh Yahudi. Duh!

Ya, meraih simpati umat Islam sangatlah penting bagi para politisi, dalam rangka mendulang suara. Mereka sangat sadar bahwa umat Islam di Indonesia itu mayoritas.

Maka, mereka pun MENJUAL AGAMA dengan cara-cara seperti yang saya sebutkan di atas. Islam beserta simbol-simbolnya mereka jadikan BAHAN JUALAN dalam rangka mendulang suara.

Berita baiknya, strategi seperti ini sangat sering terbukti ampuh. Maka mereka pun terus mengulanginya, lalu diikuti oleh politisi-politisi lain.

Sayangnya, kita umat Islam hanya mereka jadikan sebatas komoditas, sebatas bahan jualan. Sebab setelah kampanye berakhir, setelah mereka berkuasa, umat Islam justru dianaktirikan. Mereka membunuh umat Islam lewat senjata Densus88. Mereka melarang penggunaan jilbab di perusahaan-perusahaan. Mereka menuduh pesantren sebagai sarang teroris. Pengajian di Monas dilarang, tapi perayaan Paskah dan Tahun Baru dibiarkan saja.

Dan masih banyak kebijakan serta tindakan lainnya yang sangat merugikan umat Islam.

Sementara kita yang Islam justru DENGAN BODOHNYA memutuskan untuk golput. Bahkan kita dengan entengnya berkata, "Lebih baik pemimpin kafir tapi bersih daripada muslim tapi koruptur." Sebuah slogan yang menimbulkan kesan bahwa semua orang kafir itu baik dan semua orang Muslim itu koruptor. Padahal, faktanya tidak seperti itu, bukan?

Kebodohan tersebut membuat umat Islam makin terpinggirkan, dan mereka yang anti Islam semakin berkuasa, semakin merajalela.

Sampai kapan kita mau seperti ini? Sampai kapan kita hanya jadi komoditas dan bahan jualan?

Penulis: Jonru Ginting




 
About - Contact Us - Sitemap - Privacy Policy
Back To Top