Dulu Suara Adzan Dianggap Mengganggu Bermain Musiknya, Gitaris Metal Ini Kini Jadi Da'i



Jika menyebut nama Derry Sulaiman, semua penggemar musik cadas pasti mengetahui sosok yang menjadi gitaris metal Betrayer tersebut. Namun itulah kehidupannya dahulu yang kini berganti dengan dunia barunya yang tak lepas dari dakwah dan syiar lewat lagu religi.


Kisah hijrahnya gitaris metal ini cukup unik namun penuh dengan makna. Awalnya kisah tersebut bermula ketika tahun 1998 dimana ia memutuskan untuk menetap di Bali dan meninggalkan kota metropolitan Jakarta. Alasan ia ingin tinggal di Bali adalah guna mengembangkan minat musiknya yang beraliran cadas.

Mengapa Bali? Ternyata di tempat itulah menurutnya tidak ada aturan yang mengikat. Ia pun memilih tempat tersebut agar tidak mendengar suara adzan yang seringkali mengganggu konsentrasi musiknya.

"Karena musik saya metal itu, saya tidak cocok di Jakarta, apalagi di Sumatera. Saya kira Bali yang pas untuk acara musik metal itu," ucapnya saat menghadiri acara Jakarta Ramadhan Festival (12/06/2016).

Dilansir dari Dream, usahanya untuk jauh dari suara adzan justru membawanya kepada pengalaman yang sebaliknya. Di Bali, ia justru mendapatkan pengenalan islam yang lebih dalam.

"Ketika saya datang ke Bali ingin bermain musik, dan saya beranggapan di sana tidak ada adzan, justru di Bali saya mengenal Islam," ucapnya mengingat awal ia hijrah.

Derry menuturkan bahwa setiap kali ada wisatawan muslim yang datang ke Bali pasti mencari masjid. Derry yang saat itu memiliki studio musik di Legian pasti didatangi muslim untuk menanyakan tempat shalat.

Derry pun mengaku sejak di Bali ia kerap ditemui oleh para pendakwah. Padahal ketika di Jakarta yang mayoritas beragama Islam, tak pernah sedikit pun ia mengikuti acara keagamaan.

Di Bali, ia kerap mendapat ajakan dari para pendakwah untuk pergi ke masjid ataupun mushola. Akan tetapi ajakan tersebut baru ia ikuti pada tahun 2000.

Pendakwah yang sekaligus temannya berkata, "Der, ciri-ciri orang islam itu sholat lima waktu, kalau laki-laki sholat berjamaah lima waktu di masjid."

Mendengar ucapan temannya tersebut, sontak Derry merasa kebingungan. Pasalnya bagaimana bisa shalat berjamaah, mendengar adzan pun sangat sulit di daerah yang terkenal dengan Pantai Kuta dan Tanah Lot tersebut.

Setelah cukup lama berdiskusi, temannya menyarankan agar Derry mau dilatih untuk berdiam diri di masjid selama 3 hari. Ia lantas menuruti apa kata temannya tersebut.

Selama tiga hari tiga malam itu pun ia lalui di dalam masjid dan tidak keluar sama sekali. Yang dirasakan pada saat hari pertama sungguh membuat gitaris metal ini begitu tersiksa. Pasalnya hati dan pikirannya masih tertaut dengan cafe dan tempat hiburan.

Saat hari kedua, ia mulai bisa merasakan nikmat berada di masjid dan pada hari terakhir, dirinya kini tahu bahwa masjid lah yang menjadi tujuannya.

Setelah hari itu Derry pun enggan untuk keluar dari masjid. Ia selalu menjaga wudhu dan shalat fardhu diawal waktu.

Sejak saat itu pula ia menghadapi banyak tantangan seperti dikucilkan oleh lingkungan, dicemooh karena berpakaian gamis dan mendapat hujatan sebagai teroris karena hijrahnya pada keislaman berdekatan dengan waktu terjadinya bom Bali.

Namun semua itu tidak mengurungkan niatnya untuk lebih dekat lagi kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ia pun mengakui bahwa tobat yang ia jalankan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk balasan atas dosa-dosanya dahulu.

"Saya ini maksiatnya banyak, salahnya banyak. Jadi, taubatnya harus sungguh-sungguh," pungkasnya.

Semoga Allah senantiasa melindunginya dalam menyebarkan islam ke setiap lapisan masyarakat dan menjadi hidayah bagi manusia yang lainnya. Aamiin [kbm]




 
About - Contact Us - Sitemap - Privacy Policy
Back To Top