Klarifikasi wartawan Bloomberg soal Jokowi pemimpin terbaik se-Asia, Ternyata Hoax



Sebelum akhir 2016, sejumlah media nasional menulis Presiden Joko Widodo didaulat sebagai pemimpin terbaik se-Asia. Namun, penulis berita tersebut membantah telah menyebut Widodo, atau akrab disapa Jokowi, sebagai yang terbaik seperti yang ramai dibicarakan di Indonesia.


Klarifikasi tersebut ditulis langsung David Tweed, penulis berita berjudul 'Siapa Yang Punya Tahun Terburuk? Nasib Para Pemimpin Asia di 2016' yang diterbitkan media bisnis internasional Bloomberg. David menjawab pertanyaan yang diajukan Dwi Nugroho melalui akun Twitter-nya.

"Apakah anda mengatakan Joko Widodo sebagai pemimpin Asia terbaik di 2016? Kabar itu sedang menjadi rumor di Indonesia," demikian dikutip Dwi dalam akunnya @dwinugr95989941 sembari memasukkan link asli ke dalam cuitannya, Selasa (3/1).

"Tidak," jawab David singkat.

"Ok, terima kasih. Cukup jelas," sahut Dwi.


Dalam tulisannya, David memang tidak menyebut satu pun pemimpin sebagai yang terbaik. Dia hanya me-review kinerja sang pemimpin sepanjang 2016. Serta tantangan yang mungkin dihadapi mereka di 2017 nanti. Berikut tulisannya:

"Joko Widodo (55) berhasil menegaskan kekuasaannya atas peta politik di Indonesia pada 2016. Dengan mencampurkan patronage dan kecerdasan politik, dia berhasil mengontrol dua per tiga kursi parlemen, dukungan itu dipakainya dalam meloloskan RUU Amnesti Pajak yang kontroversial Juni lalu untuk mendanai program infrastruktur."

"Tantangan besar di 2017: memastikan rencananya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi agar tidak terpuruk. Selain itu soal Pilgub DKI Jakarta yang diwarnai isu SARA."

Sebelumnya sejumlah media di Indonesia menulis, Jokowi satu-satunya pemimpin negara yang memiliki performa positif. Aspek yang dinilai Bloomberg, yaitu menaikkan kekuatan nilai tukar (2,41 persen), menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif (5,02 persen skala tahun ke tahun), dan memiliki tingkat penerimaan publik yang tinggi (69 persen).

Data tersebut juga menunjukkan prestasi Jokowi masih menonjol daripada lainnya. Seperti halnya Malaysia dan Filipina yang nilai tukarnya negatif sebesar 4,26 persen dan 5,29 persen. [mdk]




 
About - Contact Us - Sitemap - Privacy Policy
Back To Top